Kamis, 21 November 2019

Bengkel diri,jalan pembuka perbaikan diri


Perkenalan pertama
Aku mengenal bengkel diri saat aku tahu tentang Ummu Balqis. Pada acara wisuda matrikulasi batch 6 Institut Ibu Profesional,Ummu hadir sebagai pembicara. Sejak itu aku rajin sekali scroll feed ig Ummu.Dari sanalah aku mulai tertarik pada sekolah online bengkel diri.Akhirnya setelah mengikuti akun ig bengkel diri,aku mendaftar dan masuk di kelas Ammah binti Khalid di level 1 sedangkan di level 2 aku tergabung di kelas Basyniin.

Ilmu dan Mentor yang luar biasa
Mengikuti perkuliahan di bengkel diri adalah jalan bagiku untuk kembali menyelami dan mengenali diriku.Walaupun sebelumnya di matrikulasi IIP pun aku sudah mendapat pencerahan seputar mengenali diri.Yang membedakan adalah,di bengkel diri aku benar-benar mendapat pemahanan baru tentang aqidah islam yang benar.Selama ini pemahanan islam ku memang masih minim,ada begitu banyak hal yang belum aku ketahui.Melalui bengkel diri,aku diajarkan kembali bahkan dari hal yang sangat mendasar tentang Islam.Hal ini tentu sangat berguna dalam hidup.Karena ketika pemahaman aqidah kita baik dan mantap,insyaallah kita senantiasa 
terbimbing dalam menjalani hidup.

Selama mengikuti kelas,aku pun dibuat terkagu - kagum oleh pemaparan ustadzah Meti Astuti yang jelas dan rinci.Beliau sangat telaten mengajar bahkan ditengah kesibukannya menjaga amanah 6 orang putra putri.Tak jarang disaat menyampaikan penjelasan melalui voice note,terdengar suara bayi.Ustadzah Meti memiliki baby twins.Masyaallah.Beliau memaparkan materi tentang Materi Dasar Islam di level 1,sedangkan di level 2 beliau lebih banyak membahas tentang fiqih keluarga.

Materi yang tak kalah seru tentu saja tentang tujuan hidup, manajemen emosi,waktu dan konflik di level 1 dan sekolah ibu di level 2 ini.Ummu Balqis menyampaikan materi demi materi dengan lugas disertai pula dengan penjelasan tips dan trik mengaplikasikan ilmu tersebut.Sejak mengikuti kelas Ummu Balqis,aku pun bisa lebih memahami bagaimana harus bersikap pada anak,pasangan dan orang -orang di sekitar.Apalagi pemaparan tentang menejemen waktu,bagiku ini sangat membantu.Selama ini aku memang cenderung kesulitan dalam membagi waktu.Dipikir-pikir waktuku banyak dihabiskan untuk hal-hal yang tidak berguna.

Ibu Annisa Widayati,beliau menyampaikan tentang pentingnya muslimah menguasai public speaking dan komunikasi.Hal ini tentu sangat berguna untukku yang cenderung pendiam dan kurang percaya diri saat harus berbicara dengan orang lain.

Ternyata di bengkel diri level 1 ini ada juga lho kelas tentang fotografi.Ilmu ini tentu sangat berguna agar hasil foto kita bisa kece dan instagramable.Mba Ariana lah mentor di kelas ini.

Mengawali kelas di level 2,Mba Melinda Nurimannisa kembali mengingatkan tentang tujuan hidup yang telah kami buat saat mengikuti kelas bersama Ummu Balqis di level 1.Mba Melinda menyampaikan tentang bagaimana kita menjadi versi terbaik dari diri kita.Mendengarkan materi dari beliau membuatku kembali bersemangat meraih mimpi.Selain itu penjelasan tentang rantai gajah membuka pikiran ,bahwa selama ini kita dihantui oleh pikiran kita sendiri seperti ketakutan,keraguan dan rasa tidak mampu.Itu lah yang membuat kita tidak berani melangkah dan mencoba hal baru.

Pemateri berikutnya adalah Bunda Amalia Dian Ramadhini,ketua Peduli Jilbab.Dari beliau aku mendapat pencerahan tentang bagaimana kita bisa menjadi leader untuk diri sendiri,harapannya ketika kita mampu memimpin diri sendiri,kita pun akan lebih mudah ketika harus memimpin orang lain.Sebagai muslimah,selain menjalankan tugas utama sebagai istri dan ibu,kita sebaiknya memiliki peran sosial sekecil apapun.

Melengkapi pembahasan Ummu Balqis tentang sekolah ibu,teh Karina Hakman memaparkan tentang Islamic Home Education.Beliau menjelasakan pengalamannya sebagai ibu dari tiga orang anak yang memilih home schooling dalam pendidikan buah hatinya.Hal terpenting dalam mendidik anak menurut nya adalah bagaimana kita menanamkan aqidah yang kuat pada anak.Sebagai orang tua kita tentu ingin mengupayakan yang terbaik dalam upaya mendampingi tumbuh kembang anak,namun jangan lupa bahwa kita harus senantiasa melibatkan Allah di dalamnya.

Kemampuan menulis yang mumpuni ternyata juga menjadi perhatian di Bengkel Diri ini.Ada dua sesi kelas menulis yang diampu oleh Ibu Dwi Rahayuningsih.Beliau memaparkan tentang bagaimana cara menulis fiksi dan non fiksi.Menurut Ibu Dwi,menulis juga bisa menjadi jalan menuju syurga atau neraka.Wah ngeri juga.Ya,jadi sebelum menulis sesuatu kita harus memperhatikan,bagaimana dampak dari tulisan kita.Apakah membawa manfaat dan bisa mengajak pembaca pada jalan kebaikan atau justru sebaliknya.

Jika sudah mengerti tentang tujuan dan tata cara menulis,saatnya mencoba membuat tulisan.Nah,salah satu wadah yang bisa digunakan untuk melatih kemampuan menulis adalah blog.Ibu Neneng Nurlaela memberikan penjelasan pada kami tentang apa itu blog,bagaimana membuatnya,manfaat dan cara memaksimalkannya.Senang sekali akhirnya berkat materi dari beliau,aku kembali 'melirik' blog ku yang sudah lama tidak terurus.

Daya tarik kelas di bengkel diri level 2 ini selain bermacam ilmu parenting,fikih keluarga dan pengembangan diri,yaitu dengan adanya kelas psikologi.Umi Rosa Karumi memberikan kami ilmu seputar cara mengenali dan menetralisir innerchild.Beliau juga memperkenalkan tentang depresi dan cara mengatasinya.Tidak bisa dipungkiri bahwa wanita lebih rentan mengalami depresi.Sungguh sebuah keberuntungan bisa mendapat ilmu psikologi ini.Disamping untuk mengatasi masalah psikis pribadi,juga bisa untuk membantu orang-orang terdekat kita agar bisa mengidentifikasi dan menetralisir innerchild serta depresi.

Hal yang membedakan antara bengkel diri level 1 dan level 2 adalah Tahsin Klub.Ummu Hanun dan Kak Naziha bertindak sebagai pembimbing kami.Masyaallah sungguh tahsin klub ini sangat berguna untukku.Selama ini bahkan aku baru menyadari batapa masih banyak kesalahanku dalam membaca Al quran.Lewat bengkel diri level 2 aku semakin semangat memperbaiki bacaan Al Quran ku. 

Amalan harian,pemacu semangat
Ada satu hal unik yang ada di Bengkel diri.Ya,laporan amalan harian,awalnya memang agak kerepotan dengan berbagai list amalan yang harus dilakukan,semacam ada paksaan dalam melakukannya.Tapi memang kadang kebaikan itu harus kita paksakan,agar kita mau melakukannya.Mungkin pertama-tama ada rasa tidak nyaman dan malas,namun insyaallah lama-lama akan menjadi kebiasaan bahkan menjadi kebutuhan.Laporan amalan ini biasa kami setorkan setiap pekan pada wali kelas.

Wali kelas totalitas , teman -teman berbagi dengan ikhlas.
Sistem belajar di bengkel diri sendiri menggunakan platform wa grup.Jadi untuk grup materi dipisah dengan grup cafe.Di grup materi hanya wali kelas dan pemateri yang bisa mengirimkan pesan.Sedangkan jika kita ingin berdiskusi bisa dilakukan di grup cafe.Saat berada di level 1 wali kelas ku adalah Teh Yanti,di level 2 Kak Naziha lah wali kelasnya.Wali kelas kami selalu menyemangati kami dalam menjalani kelas dan menyetor amalan harian.Teman-temanpun demikian,mereka bahkan ada yang membuatkan rangkuman materi di goegle drive dan membagikan pada kami.

Sungguh aku merasa beruntung bisa mengenal dan bergabung di Bengkel Diri,semoga Bengkel diri semakin maju dan semakin banyak muslimah yang tercerahkan.Ammiin.














Jumat, 09 November 2018

Menemani Mengaji

Sebulan terakhir aku mulai memiliki kesibukan baru.What? Menemani Mengaji.Bukan mengajari mengaji ya😄😄.Ini beneran mengantar anak ke mushola dan aku duduk di dekat anak-anak yang sedang mengaji.

Ngapain disitu?
Mejeng?..😄
Enggak ya ...aku sebenarnya pengin ninggalin anakku bersama teman-temannya.Tapi doi belum mau.Memang hanya ada 2 anak yang dia kenal disini sisanya,ada yang sering lihat tapi tidak akrab,ada juga yang memang baru pertama kenal.Jadilah aku ikut menyimak pak ustadz mengajar mengaji.

Kenapa gak diajarin sendiri aja sih ngajinya?
Mamanya ngapain aja?
Ok..ok..
Asli ini ya,aku sih tetep ngajarin anakku ngaji..karena memang berharap bahwa akulah yang pertama memperkenalkan huruf-huruf Al quran padanya.Biar pahalanya terus mengalir sampai di alam kubur.Tapi memang akhir-akhir ini anakku kurang tertarik kalau aku mengajaknya membaca iqro.PR banget buat aku untuk mencari cara yang lebih menarik.
Sebelum ikut mengaji di mushola,aku biasanya membuat dan mewarnai huruf-huruf hijaiyyah itu dan membuat cerita tentang huruf tersebut.
Cara ini cukup bisa menarik perhatiannya.Harapannya dengan cara ini anak jadi lebih mudah menghafal dan tidak merasa sedang belajar karena dikakukan sambil bermain.
Pernah juga aku membuat kartu-kartu hijaiyyah .Maksudnya untuk tebak-tebakan huruf.Ternyata anakku justru lebih tertarik untuk menjadikan kartu itu seperti orang yang bisa saling bicara.Setiap kartu diberi nama sesuai dengan huruf hijaiyyah yang tertulis.
Jadilah huruf Ka diimajinasikan sedang bermain dengan Ha atau Alif dan dengan huruf-huruf lainnya.
Begitulah upaya-upaya yang aku lakukan untuk membuatnya tertarik membaca Iqro.Membuat anak bisa mungkin mudah tapi membuatnya merasa suka butuh kesabaran.

Kenapa anak akhirnya ikut mengaji di mushola?
Awalnya,anakku memang tidak mau jika diajak ke mushola.Faktor susah bergaul menjadi salah satu faktor yang membuatnya tidak mau belajar disana.Kalau tidak ada yang akrab ,dia merasa malu dan tidak nyaman.Aku tidak memaksanya.
Sejak masuk Tk,anakku sudah sedikit demi sedikit bersosialisasi.Salah seorang wali murid sering merayu anakku untuk ikut mengaji dengan anaknya. Anakku lumayan akrab dengan anaknya,kami sering pulang bersama.Apakah anak langsung mau? Tidak.Butuh waktu sampai dia berkata"Ma,nanti aku mau ngaji di Mushola".
Dan sekarang aku masih disini menemaninya.😂

Rabu, 31 Oktober 2018

Dia Copy Paste Ku

"Kenapa sih...gak mau sendiri aja ?masa mama mesti ikut"
"Sana main sama temen,jangan sama mama mulu!"

Kalimat diatas sering aku sampaikan pada putri kecilku yang berusia 5,5 tahun.Terdengar biasa saja tapi sebenarnya adalah kalimat yang tidak mengandung empati.Saat sedang mengucapkannya tentu aku tidak menyadarinya.Yang aku rasakan adalah kekesalan kenapa anakku terlihat begitu manja dan susah bergaul.
Saat jam istirahat di Tk,aku berharap dia akan bersuka cita bersama teman- temannya.Bermain perosotan atau ayunan.Bukan bergelayut manja di pangkuan ku.Sebenarnya banyak teman-temannya yang mengajak bermain,tapi entah kenapa dia kadang tidak bersemangat.

Saat baru masuk Tk,selama seminggu aku menungguinya di kelas.Setiap aku akan beranjak pergi,air matanya berlinang.Sampai emosi ku kadang naik dan ingin membentaknya.
Sempat aku mengeluhkan sikap anakku pada saudara.Dan jawabannya "gak jauh lah sama ibunya".What? Benarkah aku seperti itu?
Karena ingin mengetahuinya lebih jelas apa penyebab sikap anakku itu,akupun kembali menyelami diri,memutar waktu,mengingat kenangan wkkk..

Baiklah,yang aku ingat,saat kecil seusianya aku punya teman- teman karib dan sepertinya cukup mandiri.Tapi memang aku kadang merasa tidak nyaman dengan lingkungan baru,bahkan kadang minder.Sebenarnya aku sangat pemalu😂😂..dan pantaslah anakku seperti copy paste ku.
Hal lainnya yang menyebabkan anakku susah bergaul,karena aku ibunyapun susah bergaul😄.Ya ngaku deh...aku memang tipe-tipe yang butuh waktu untuk bisa dekat dengan orang .Dan ini menurun!!.Anakku tidak mudah aktab dengan anak-anak lain jika baru bertemu sebentar.Dia butuh berinteraksi agak lama sampai merasa nyaman.Apalagi pada laki-laki,lebih lama prosesnya.Ada keponakan suami yang tinggal lama di rumah tapi anakku tetap merasa malu😉😂.

Setelah menganalisa diriku sendiri, kini aku berusaha lebih berempati pada anakku.Karena aku tahu,butuh perjuangan untuk bisa nyaman dengan orang-orang baru.
Sejak kecil,anakku memang sudah menunjukkan bakat susah bergaul.Saat usianya sekitar 5 bulan,dia susah sekali diajak orang lain.Bahkan oleh om dan tanteku yang tinggal serumah.Semakin bertambah usianya ternyata tak kunjung juga membawa perubahan dalam hal sosialisasi.Setiap aku kedatangan tamu,aku hanya berdiam di kamar menemani anakku yang tidak mau ditinggal-tinggal juga tidak mau diajak keluar.Kadang aku bingung dan sedih kenapa dia bisa begitu.

Ada keuntungan saat anak tidak mudah diajak orang lain,misalnya anak jadi tidak jauh-jauh dibawa pergi atau misal tidak mudah diculik.Susahnya,aku seperti tidak bisa berkutik harus selalu menemaninya.
Kini,aku harus membenahi cara pengasuhannku terutama dalam menumbuhkan fitrah sosialnya. Aku mengakui bahwa selama ini kurang maksimal dalam menumbuhkan fitrah ini,karena sebenarnya akupun sedang berjuang untuk bisa menumbuhkan fitrah sosial ku sendiri.Semoga kedepannya aku dan anakku bisa tumbuh bersama menjadi pribadi yang lebih nyaman ketika bersosialisasi.

Apapun keadannya,aku selalu yakin bahwa anakku punya fitrah yang hebat,yang telah Allah instal kedalam dirinya,hanya kami orang tuanya yang harus terua belajar untuk memantaskan diri sebagai orangtuan yang layak mendampingi anak - anak hebat.

Love you always..my daughter😍😍

Sabtu, 13 Oktober 2018

My New Blog

Sekitar tahun 2012 an sebenarnya aku pernah membuat akun multiply.Beberapa tulisan pernah kubuat,tapi sejak berhenti bekerja dan menikah,aku tak pernah membuka lagi akun tersebut.Akhirnya lupa pula sekarang nama akun dan paswordnya😄.

Tiga bulan terakhir,aku ikut komunitas Ibu Profesioanal.Disana aku dibimbing untuk lebih mengenali diri.Mulai dari memilih satu jurusan ilmu yang ingin dipelajari,menentukan tujuah hidup,sampai membuat konsep be -do-have.

Konsep be do have yang aku buat ternyata membuat ibu fasilitator memilih ku untuk mengikuti pertukaran kelas. Kelas ku jakarta 4 dan aku kebagian berkunjung ke kelas bogor.Disana kami melakukan tanya jawab seputar konsep be do have yang aku buat.Nah aku memiliki keinginan untuk berbagi ilmu melalui tulisan atau langsung.Salah satu peserta menanyakan apakah punya blog? Tetew...ternyata aku bahkan belum punya blog😂😂.

Baiklah,,setelah merenung (lebay.com).Akhirnya aku memutuskan untuk membuat blog.Nah kan...ternyata memang kita harus memberitahukan mimpi-mimpi kita pada orang lain.Karena orang lain yang akan selalu mempertanyakan apa langkah kita untuk mewujudkan mimpi.Semoga kedepannya blog ini berisi tulisan yang bermanfaat,khususnya tentang parenting.